Blog


Menjawab tantangan pandemi,

GURU KEMBANGKAN KOMPETENSI BERSAMA Guruinovatif.id

Memasuki kuartal pertama tahun 2020, dunia Pendidikan Indonesia dibuat kocar-kacir dengan mulai masuknya virus corona yang menyebar secara pesat. Pemerintah kemudian dengan sigap dan tanggap menginstruksikan agar proses pembelajaran menggunakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk mengurangi dampak wabah ini pada sektor Pendidikan khususnya di sekolah, sedangkan baik dari Bapak/Ibu Guru maupun peserta didik banyak yang belum siap. Lalu, bagaimana kita (sebagai guru/pengajar) mencari jalan keluarnya?

Baca selengkapnyaReferensi

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru saja menyambut tahun baru duaribu dua puluh waktu itu. Hari demi hari, dari Hari Tahun Baru Masehi sampai Hari Peringatan Peristiwa Serangan Umum Satu Maret yang pernah terjadi di Yogykarta dilalui dengan penuh khidmat, sebagai rasa syukur menyambut bertambahnya usia ibu pertiwi yang ke tujuh puluh lima tahun.

Tidak berselang lama dari Hari Peringatan Peristiwa Serangan Umum di Yogyakarta yang diperingati setiap tanggal satu maret, negara kita tercinta Indoneisia mengalami cobaan yang bisa dibilang begitu berat. Pada akhir kuartal pertama tahun 2020, corona virus yang mengisolasi warga Wuhan, China tahun lalu, mulai menjangkiti warga Ibu Pertiwi. Akhirnya, nama Indonesia per hari senin, 02 Maret 2020 mulai masuk dalam daftar 69 negara yang terjangkit virus corona.
Dampak yang ditimbulkan oleh virus corona (yang sekarang lebih populer disebut COVID-19) ini, seperti menghentak dan meringsek ke beberapa sektor-sektor vital seperti sektor Ekonomi dan Pariwisata. Selain sektor Ekonomi dan Pariwisata, sektor Pendidikan juga merasakan dampak yang bisa dibilang cukup parah.

Wabah Corona Virus Mempengaruhi Sektor Pendidikan Indonesia

Setelah diumumkan bahwa Virus Corona sudah menjangkiti beberapa warga di Indonesia waktu itu, salah satu tindakan cepat yang dilakukan adalah mulai diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran daring atau belajar dari rumah (BDR). Kebijakan tersebut mulai diberlakukan oleh beberapa kepala daerah seperti Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), F.X. Hadi Rudyato (Wali Kota Solo), dan Sri Sultan HB X (Gubernur DI. Yogyakarta) kemudian diikuti oleh kepala-kepala daerah lainnya selama dua minggu atau empat belas hari lamanya. Kebijakan tersebut diberlakukan dengan harapan agar sekolah-sekolah atau tempat-tempat sejenis tidak menjadi tempat penyebaran virus coronona. Bahkan, ujian nasional dan ujian sekolah yang peyelenggaraannya tidak lama lagi itu pun ikut ditunda pelaksanaannya.

Selama dua minggu pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak dari Bapak/Ibu Guru maupun peserta didik dan orang tua yang tidak siap dengan perubahan pola belajar yang baru ini. Penyesuaian gaya belajar yang serba online, membuat orang tua mau tidak mau juga harus terlibat dalam proses pembelajaran, seperti gawainya dipakai anak untuk tatap maya dengan gurunya, membantu anak memahami materi, membantu anak untuk memahami soal-soal yang diberikan oleh guru, dan masih banyak lagi skenario-skenario lainnya. Ditambah lagi, bapak ibu guru yang belum terlalu mengenal IT atau belum terbiasa menggunakan perangkat-perangkat seperti komputer, laptop, gawai dan perangkat pendukung lainnya, harus secara cepat beradaptasi agar minimal pembelajaran bisa terlaksana. Permasalahan juga tidak berhenti pada bapak ibu guru yang belum mengenal IT, bagi bapak ibu guru yang sudah sering menggunakan perangkat-perangkat tersebut pun masih harus belajar bagaimana melaksanakan proses pembelajaran secara daring dengan materi pembelajaran tersampaikan kepada peserta didik secara tepat.

Bermula dari curahan hati beberapa tetangga rumah dan teman-teman tentang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini, sebagai mahasiswa jurusan kependidikan yang baru saja lulus waktu itu, saya juga sempat khawatir dengan bagaimana cara menyampaikan materi kepada peserta didik dengan tepat pada kondisi seperti ini. Beberapa peserta didik tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang kebetulan adalah tetangga dan adik dari teman saya sendiri, mengungkapkan bahwa pembelajaran yang mereka alami tidak dapat mereka terima dengan maksimal. Hal yang menambah kecemasan mereka salah satunya adalah ketika materi yang dipelajari hari itu belum begitu paham, tetapi tugas yang diberikan cukup membebani. Ada tugas yang memiliki nomor soal banyak (walaupun pilihan ganda), tugas merangkum atau membuat catatan yang cukup banyak dengan waktu pengumpulan yang singkat, dan tugas-tugas membuat video dengan ketentuan-ketentuan yang bermacam-macam.

Kembali lagi..

Sebagai seorang lulusan dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, saya pribadi juga masih mencari informasi dari berbagai sumber tentang bagaimana melaksanakan proses pembelajaran dimasa pandemi seperti ini agar materi dapat tersampaikan kepada siswa secara maksimal. Selain itu, dibenak saya sampai saaat ini masih terdapat sebuah tanda tanya besar, jika keadaan seperti ini kedepannya berlangsung cukup lama, apakah akan menambah permasalahan di Indoensia terutama pada bidang pendidikan ke level yang lebih kompleks lagi?

Permasalahan Pendidikan di Indonesia Sebelum dan Sesudah Pandemi

Sebenarnya sejak dahulu, permasalahan pada dibidang pendidikan ini hanya berkutat ke beberapa hal saja, kemudian berputar-putar tidak ada habisnya. Permasalahan berputar dari sumber daya manusia, menuju ke bagian pelayanan pendidikan seperti fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana, dana pendidikan dan berputar kembali lagi ke permasalahan sumber daya manusia. Dari rangkaian permasalahan tersebut, yang sering disoroti adalah permasalahan pada bagian pelayanan pendidikan yaitu meliputi fasilitas, sarana dan prasarana serta dana pendidikan.

Bicara soal dana pendidikan, berdasarkan data per 18 Januari 2021, total anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2020 adalah sekitar Rp 86,2 triliun. Sedangkan pada rapat kerja perdana Kemdikbud bersama komisi X DPR RI pada tahun 2021, menetapkan bahwa dana pendidikan dialokasikan sebesar 20 persen dari APBN atau sekitar Rp 500-an triliun. Dari total 20 persen tersebut, sebesar Rp 81,5 triliun atau sekiar 14,8 persen dipercayakan kepada Kemdikbud untuk dikelola. Dari cuplikan informasi tersebut saja, beberapa orang awam akan sering mempertanyakan kemana sajakah realisasi dari anggaran yang besar itu? Kenapa masih banyak perbedaan-perbedaan fasilitas dan sarana-prasarana diberbagai sekolah?

Permasalahan lainnya yaitu bagi masyarakat yang kesulitan ekonomi, banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja membantu orang tua untuk membiayai kebutuhan sehari-hari daripada bersekolah dan menambah biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua. Mulai dari kerja membantu mengurus sawah, mengurus hewan ternak, sampai menjadi pramusaji atau kasir di minimarket atau restoran. Fokus utama mereka kemungkinan lebih menuju ke arah, bagaimana bisa membantu keluarga untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Selain permasalahan tentang pelayanan pendidikan, kesenjangan fasilitas serta sarana dan prasarana pendidkan antara daerah satu dengan yang lainnya juga disorot menjadi penyebabnya pendidikan di Indonesia belum bisa maju seperti negara lain. Menurut data yang pernah dipublikasikan, pendidikan di Indonesia bisa dikatakan berdada pada peringkat yang kurang memuaskan. Seperti hasil studi Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) 2019 di bawah ini misalnya.

Matemaitka

Sains

Dari hasil studi dari TIMSS tersebut, Indonesia berada sangat jauh dari negara tetangga kita yaitu Singapura, dimana Indonesia jauh di posisi bawah dari daftar yang dirilis sedangkat Singapura menduduki posisi atas. Indonesia berada sedikit di atas Saudi Arabia, Maroko dan Kuwait untuk Matematika dan Sains. TIMSS sendiri merupakan sebuah studi skala internasional tentang prestasi pada bidang matematika dan sains untuk siswa sekolah lanjutkan tingkat pertama.

Setelah hadirnya pandemi ini, apakah bisa dibilang permasalahan bidang pendidikan di Indonesia menjadi bertambah? Jawaban sementara yang bisa saya ungkapkan jika ada yang menanyakan hal tersebut adalah “bisa jadi”. Kenapa demikian? kita bisa lihat dari anggaran dana pendidikan tahun 2021 yang turun sekitar lima triliun, dana tersebut ikut dialokasikan untuk membantu meringankan beban masyarakat ditengah pandemi Covid-19 ini.

Pada akhirnya, bapak/ibu gurulah yang diharapkan dapat membantu pemerintah di garda terdepan untuk ikut memperbaiki permasalahan pendidikan terutama pada masa pandemi Covid-19 ini. Bapak/ibu guru diharapkan mampu dengan cepat beradaptasi untuk mencari cara bagaimana agar pembelajaran secara daring ini juga efektif untuk menyampaikan materi kepada peserta didik.

Mengembangkan Kompetensi Menjadi Guru Hebat Yang Kreatif dan Inovatif Bersama Guruinovatif.id

Sebagai sarana untuk mengembangkan kompetensi, guru dapat menggunakan berbagai platform online yang tersedia. Terlebih, dimasa pandemi ini banyak pilihan platform online yang memberikan berbagai pelatihan secara gratis maupun berbayar.  Salah satu platform tersebut adalah Guruinovatif.id. Guruinovatif.id merupakan Platform Online Learning bersertifikat untuk guru. Platform ini merupakan bagian dari Highly Functioning Education Consulting Services (HAFECS). HAFECS sendiri merupakan sebuah lembaga yang didirikan oleh Yayasan Hasnur Centre.

Platform ini merupakan salah satu solusi yang layak dicoba sebagai sarana pelatihan guru, dan sertifikasi guru guna menggali dan memperdalam keterampilan-keterampilan apa saja yang diperlukan oleh guru dalam mengajar, terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini. Di Guruinovatif.id ini guru belajar menyesuaikan waktu masing-masing sehingga sangat fleksibel dan dengan pilihan materi yang beragam.

Materi yang tersaji di Guruinovatif.id diberikan dengan beberapa kategori dan berbagai cara penyampaian, misalnya dikemas dalam kategori event seperti di Bincang Guru Inovatid, GI Class, GI Academy, dan Paket 32 JP. Selain itu guru juga bisa mengikuti berbagai lomba yang ada dan juga download RPP.

Mengenal Lebih Dalam Guruinovatif.id

Ada pepatah mengatakan, tak kenal maka tidak tahu! Untuk itu, agar bapak dan ibu Guru lebih mengenal Guruinovatif.id, bapak dan ibu bisa menyimak dan mengikuti menu-menu di bawah ini. Pastikan bapak dan ibu menyesuaikan dengan kebutuhan yang bapak dan ibu guru inginkan.

Online Certification

Sertifikasi online hingga 32 JP untuk semua guru di Indonesia dengan berbagai topik beserta tugas yang dapat dikerjakan.

Cari Tahu Selengkapnya

Klik pada tombol di bawah ini

Klik!

Online Certification

Sertifikasi online hingga 32 JP untuk semua guru di Indonesia dengan berbagai topik beserta tugas yang dapat dikerjakan.

Cari Tahu Selengkapnya

Klik pada tombol di bawah ini

Klik!

Online Certification

Sertifikasi online hingga 32 JP untuk semua guru di Indonesia dengan berbagai topik beserta tugas yang dapat dikerjakan.

Cari Tahu Selengkapnya

Klik pada tombol di bawah ini

Klik!

Referensi:

https://www.antaranews.com/berita/1883964/iwan-syahril-sebarkan-budaya-inovasi-pada-guru

https://salingkanagari.com/2020/09/16/dirjen-gtk-iwan-syahril-ingatkan-guru-agar-arahkan-pembelajaran-berorientasi-siswa/

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200629163724-4-168857/catat-guru-harus-siap-adaptasi-pembelajaran-kala-pandemi

https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/tantangan-perubahan-mindset-masa-pandemi-covid19

https://www.halodoc.com/artikel/kronologi-lengkap-virus-corona-masuk-indonesia

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51769074

https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2021/01/pagu-anggaran-kemendikbud-tahun-2021-sebesar-rp815-triliun

http://visual.kemenkeu.go.id/anggaran-pendidikan-apbn-2020/

http://timssandpirls.bc.edu/timss2015/international-results/wp-content/uploads/filebase/mathematics/1.-student-achievement/1_1_math-distribution-of-mathematics-achievement-grade-4.pdf

http://timssandpirls.bc.edu/timss2015/international-results/wp-content/uploads/filebase/science/1.-student-achievement/1_1_science-distribution-of-science-achievement-grade-4.pdf

https://nasional.kompas.com/read/2012/12/14/03352455/Kemampuan.Sains.Rendah

https://guruinovatif.id/

https://tentang.guruinovatif.id/

Baca juga: